Materi Inisiasi 6 TAP UT Administrasi Bisnis
MATERI INISIASI 6
ADBI4500 TAP
MANAJEMEN
PERSEDIAAN
ALASAN DIADAKANNYA
PERSEDIAAN
Pada prinsipnya semua perusahaan melaksanakan
proses produksi akan menyelenggarakan persediaan bahan baku untuk kelangsungan
proses produksi dalam perusahaan tersebut. Beberapa hal yang menyangkut
menyebabkan suatu perusahaan harus menyelenggarakan persediaan bahan baku
menurut Ahyari (2003:150), adalah:
1.
Bahan yang akan digunakan
untuk pelaksanaan proses produksi perusahaan tersebut tidak dapat dibeli atau
didatangkan secara satu persatu dalam jumlah unit yang diperlukan perusahaan
serta pada saat barang tersebut akan dipergunakan untuk proses produksi
perusahaan tersebut. Bahan baku tersebut pada umumnya akan dibeli dalam jumlah
tertentu, dimana jumlah tertentu ini akan dipergunakan untuk menunjang
pelaksanaan proses produksi perusahaan yang bersangkutan dalam beberapa waktu
tertentu pula. Dengan keadaan semacam ini maka bahan baku yang sudah dibeli
oleh perusahaan namun belum dipergunakan untuk proses produksi akan masuk sebagai
persediaan bahan baku dalam perusahaan tersebut.
2.
Apabila perusahaan
tidak mempunyai persediaan bahan baku, sedangkan bahan baku yang dipesan belum
datang maka pelaksanaan proses produksi dalam perusahaan tersebut akan
terganggu. Ketiadaan bahan baku tersebut akan mengakibatkan terhentinya
pelaksanaan proses produksi pengadaan bahan baku dengan cara tersebut akan
membawa konsekuensi bertambah tingginya harga beli bahan baku yang dipergunakan
oleh perusahaan.
Untuk menghindari kekurangan bahan baku tersebut,
maka suatu perusahaan dapat menyediakan bahan baku dalam jumlah yang banyak.
Tetapi persediaan bahan baku dalam jumlah besar tersebut akan mengakibatkan
terjadinya biaya persediaan bahan yang semakin besar pula. Biaya yang semakin
besar ini berarti akan mengurangi keuntungan perusahaan. Disamping itu, resiko
kerusakan bahan juga akan bertambah besar apabila persediaan bahan bakunya
besar.
Kerugian dari
Ketidakpastian Pengadaan Persediaan Bahan Baku
Pada umumnya penggunaan bahan baku didasarkan
pada anggapan bahwa setiap bulan selalu sama, sehingga secara berangsur-angsur
akan habis pada waktu tertentu. Agar jangan sampai terjadi kehabisan bahan baku
yang berakibat akan mengganggu kelancaran proses produksi sebaiknya pembelian
bahan baku dilaksanakan sebelum habis. Secara teoritis keadaan tersebut dapat
diperhitungkan, akan tetapi tidak semudah itu. Kadang-kadang bahan baku masih
cukup banyak namun sudah dilakukan pembelian sehingga berakibat menumpuknya
bahan baku digudang. Hal ini bisa menurunkan kualitas bahan dan akan memakan
biaya penyimpanan.
Secara garis besar ada dua faktor yang
mempengaruhi ketidakpastian bahan baku yaitu dari dalam perusahaan dan faktor
dari luar perusahaan. Ketidakpastian dari dalam perusahaan disebabkan oleh
faktor dari perusahaan itu sendiri dalam pemakaian bahan baku, karena pemakaian
bahan baku oleh perusahaan tidaklah selalu tepat dengan apa yang selalu
direncanakan. Mungkin suatu saat ada gangguan tehnis sehingga akan mengganggu
proses produksi yang akan menyebabkan pemakaian bahan baku berkurang. Mungkin
saja pemborosan-pemborosan atau karena bahan baku yang kurang baik sehingga
pemakaian bahan baku keluar dari rencana semula.
Disamping ketidakpastian bahan baku dari dalam
perusahaan terdapat pula ketidakpastian dari luar perusahaan. Ketidakpastian
dari luar perusahaan ini disebabkan oleh faktor-faktor dari luar perusahaan.
Dalam hal ini perusahaan pada saat melaksanakan pembelian sudah diperhitungkan
agar bahan baku yang dibeli tersebut datangnya tepat pada saat persediaan yang
ada sudah habis. Namun kenyataannya bahan baku tersebut datangnya sering tidak
sesuai dengan yang telah diperhitungkan, atau bahan tersebut datang sebelum
waktu yang dijanjikan.
Fungsi-Fungsi
Persediaan
Fungsi-fungsi persediaan penting artinya dalam
upaya meningkatkan operasi perusahaan, baik yang berupa operasi internal maupun
operasi eksternal sehingga perusahaan seolah-olah dalam posisi bebas.
Fungsi persediaan pada dasarnya terdiri dari
tiga fungsi yaitu:
1. Fungsi Decoupling
Merupakan fungsi perusahaan untuk mengadakan
persediaan decouple atau terpisah dari berbagai bagian proses
produksi. Fungsi ini memungkinkan bahwa perusahaan akan dapat memenuhi
kebutuhannya atas permintaan konsumen tanpa tergantung pada suplier barang. Untuk
dapat memenuhi fungsi ini dilakukan cara-cara sebagai berikut:
1)
Persediaan bahan
mentah disiapkan dengan tujuan agar perusahaan tidak sepenuhnya tergantung
penyediaannya pada suplier dalam hal kuantitas dan pengiriman.
2)
Persediaan barang
dalam proses ditujukan agar tiap bagian yang terlibat dapat lebih leluasa dalam
berbuat.
3)
Persediaan barang jadi
disiapkan pula dengan tujuan untuk memenuhi permintaan yang bersifat tidak
pasti dari langganan.
2. Fungsi Economic Lot
Sizing
Tujuan dari fungsi ini adalah pengumpulan
persediaan agar perusahaan dapat berproduksi serta menggunakan seluruh sumber
daya yang ada dalam jumlah yang cukup dengan tujuan agar dapat mengurangi biaya
per unit
produk.
Pertimbangan yang dilakukan dalam persediaan
ini adalah penghematan yang dapat terjadi pembelian dalam jumlah banyak yang
dapat memberikan potongan harga, serta biaya pengangkutan yang lebih murah
dibandingkan dengan biaya-biaya yang akan terjadi, karena banyaknya persediaan
yang dipunyai.
3. Fungsi Antisipasi
Perusahaan sering mengalami suatu
ketidakpastian dalam jangka waktu pengiriman barang dari perusahaan lain,
sehingga memerlukan persediaan pengamanan (safety stock), atau
perusahaan mengalami fluktuasi permintaan yang dapat diperkirakan sebeumnya
yang didasarkan pengalaman masa lalu akibat pengaruh musim, sehubungan dengan
hal tersebut perusahaan sebaiknya mengadakan seaseonal inventory (persediaan
musiman) (Asdjudiredja,1999:114).
Selain fungsi-fungsi di atas, menurut
Herjanto (1997:168) terdapat enam fungsi penting yang dikandung oleh persediaan
dalam memenuhi kebutuhan perusahaan antara lain:
1.
Menghilangkan resiko
keterlambatan pengiriman bahan baku atau barang yang dibutuhkan perusahaan
2.
Menghilangkan resiko
jika material yang dipesan tidak baik sehingga harus dikembalikan
3.
Menghilangkan resiko
terhadap kenaikan harga barang atau inflasi.
4.
Untuk menyimpan bahan
baku yang dihasilkan secara musiman sehingga perusahaan tidak akan sulit bila
bahan tersebut tidak tersedia dipasaran.
5.
Mendapatkan keuntungan
dari pembelian berdasarkan potongan kuantitas (quantity discount)
6.
Memberikan pelayanan
kepada langganan dengan tersediaanya barang yang diperlukan.
Pengendalian
Persediaan Bahan Baku
1. Pengertian pengendalian bahan baku
Pengendalian bahan baku yang diselenggarakan
dalam suatu perusahaan, tentunya diusahakan untuk dapat menunjang
kegiatan-kegiatan yang ada dalam perusahaan yang bersangkutan. Keterpaduan dari
seluruh pelaksanaan kegiatan yang ada dalam perusahaan akan menunjang
terciptanya pengendalian bahan baku yang baik dalam suatu perusahaan.
Pengendalian persediaan merupakan fungsi
manajerial yang sangat penting bagi perusahaan, karena persediaan fisik pada
perusahaan akan melibatkan investasi yang sangat besar pada pos aktiva lancar.
Pelaksanaan fungsi ini akan berhubungan dengan seluruh bagian yang bertujuan
agar usaha penjualan dapat intensif serta produk dan penggunaan sumber daya
dapat maksimal.
Istilah pengendalian merupakan penggabungan
dari dua pengertian yang sangat erat hubungannya tetapi dari masing-masing
pengertian tersebut dapat diartikan sendiri-sendiri yaitu perencanaan dan
pengawasan. Pengawasan tanpa adanya perencanaan terlebih dahulu tidak ada
artinya, demikian pula sebaliknya perencanaan tidak akan menghasilkan sesuatu
tanpa adanya pengawasan.
Menurut Widjaja (1996:4), perencanaan adalah
proses untuk memutuskan tindakan apa yang akan diambil dimasa depan.
Perencanaan kebutuhan bahan adalah suatu sistem perencanaan yang pertama-tama
berfokus pada jumlah dan pada saat barang jadi yang diminta yang kemudian
menentukan permintaan turunan untuk bahan baku, komponen dan sub perakitan pada
saat tahapan produksi terdahulu (Horngren, 1992:321).
Pengawasan bahan adalah suatu fungsi
terkoordinasi di dalam
organisasi yang terus-menerus disempurnakan untuk meletakkan pertanggungjawaban
atas pengelolaan bahan baku dan persediaan pada umumnya, serta menyelenggarakan
suatu pengendalian internal yang menjamin adanya dokumen dasar pembukuan yang
mendukung sahnya suatu transaksi yang berhubungan dengan bahan, pengawasan
bahan meliputi pengawasan fisik dan pengawasan nilai atau rupiah
bahan.(Supriyono,1999:400)
Kegiatan pengawasan persediaan tidak terbatas
pada penentuan atas tingkat dan komposisi persediaan, tetapi juga termasuk
pengaturan dan pengawasan atau pelaksanaan pengadaan bahan-bahan yang
diperlukan sesuai dengan jumlah dan waktu yang dibutuhkan dengan biaya yang
serendah-rendahnya.
Pengendalian adalah proses manajemen yang
memastikan dirinya sendiri sejauh hal itu memungkinkan, bahwa kegiatan yang
dijalankan oleh anggota dari suatu organisasi sesuai dengan rencana dan
kebijaksanaannya (Widjaja,1996:3). Pengendalian berkisar pada kegiatan
memberikan pengamatan, pemantauan, penyelidikan dan pengevaluasian keseluruh
bagian manajemen agar tujuan yang ditetapkan dapat tercapai.
Tujuan Pengendalian Pesediaan
Menurut Assauri (1998:177), tujuan pengawasan
persediaan dapat diartikan sebagai usaha untuk:
1.
Menjaga jangan sampai
perusahaan kehabisan persediaan sehingga menyebabkan proses produksi terhenti.
2.
Menjaga agar penentuan
persediaan oleh perusahaan tidak terlalu besar sehingga biaya yang berkaitan
dengan persediaan dapat ditekan.
3.
Menjaga agar pembelian
bahan baku secara kecil-kecilan dapat dihindari.
Tujuan dasar dari pengendalian bahan adalah kemampuan
untuk mengirimkan surat pesanan pada saat yang tepat pada pemasok terbaik untuk
memperoleh kuantitas yang tepat pada harga dan kualitas yang tepat
(Matz,1994:229).
Jadi, dalam rangka mencapai tujuan tersebut
diatas, pengendalian persediaan dan pengadaan perencanaan bahan baku yang
dibutuhkan baik dalam jumlah maupun kuantitas yang sesuai dengan kebutuhan
untuk produksi serta kapan pesanan dilakukan.
Prinsip-Prinsip
Pengendalian
Menurut Matz (1994:230), sistem dan tehnik
pengendalian persediaan harus didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:
1.
Persediaan diciptakan
dari pembelian (1) bahan dan suku cadang, dan (2) tambahan biaya pekerja
dan overhead untuk mengelola bahan menjadi barang jadi.
2.
Persediaan berkurang
melalui penjualan dan perusakan.
3.
Perkiraan yang tepat
atas skedul penjualan dan produksi merupakan hal yang esensial bagi pembelian,
penanganan, dan investasi bahan yang efisien.
4.
Kebijakan manajemen,
yang berupaya menciptakan keseimbangan antara keragaman dan kuantitas persediaan
bagi operasi yang efisien dengan biaya pemilikan persediaan tersebut merupakan
faktor yang paling utama dalam menentukan investasi persediaan.
5.
Pemesanan bahan
merupakan tanggapan terhadap perkiraan dan penyusunan rencana pengendalian
produksi.
6.
Pencatatan persediaan
saja tidak akan mencapai pengendalian atas persediaan.
7.
Pengendalian bersifat
komparatif dan relatif, tidak mutlak.
Oleh karena itu, Matz (1994:229) berpendapat
bahwa pengendalian persediaan yang efektif harus:
1.
Menyediakan bahan dan
suku cadang yang dibutuhkan bagi operasi yang efisien dan lancar.
2.
Menyediakan cukup
banyak stock dalam periode kekurangan pasokan (musiman, siklus atau pemogokan),
dan dapat mengantisipasi perubahan harga.
3.
Menyiapkan bahan
dengan waktu dan biaya penanganan yang minimum serta melindunginya dari
kebakaran, pencurian, dan kerusakan selama bahan tersebut ditangani
4.
Mengusahakan agar
jumlah persediaan yang tidak terpakai, berlebih, atau yang rusak sekecil
mungkin dengan melaporkan perubahan produk secara sistematik, dimana perubahan
tersebut mungkin akan mempengaruhi bahan suku cadang.
5.
Menjamin kemandirian
persediaan bagi pengiriman yang tepat waktu kepada pelanggan.
6.
Menjaga agar jumlah
modal yang diinvestasikan dalam persediaan berada pada tingkat yang konsisten
dengan kebutuhan operasi dan rencana manajemen.
Sistem pengendalian
persediaan
Penentuan jumlah persediaan perlu ditentukan
sebelum melakukan penilaian persediaan. Jumlah persediaan dapat ditentukan
dengan dua sistem yang paling umum dikenal pada akhir periode yaitu:
1.
Periodic system, yaitu setiap akhir periode dilakukan perhitungan secara fisik
agar jumlah persediaan akhir dapat diketahui jumlahnya secara pasti.
2.
Perpectual system, atau book inventory yaitu setiap kali
pengeluaran diberikan catatan administrasi barang persediaan.
Dalam melaksanakan panilaian persediaan ada
beberapa cara yang dapat dipergunakan yaitu:
1.
First in,
first out (FIFO) atau masuk pertama keluar pertama
Cara ini didasarkan atas asumsi bahwa arus harga bahan adalah
sama dengan arus penggunaan bahan. Dengan demikian bila sejumlah unit bahan
dengan harga beli tertentu sudah habis dipergunakan, maka penggunaan bahan
berikutnya harganya akan didasarkan pada harga beli berikutnya. Atas dasar
metode ini maka harga atau nilai dari persediaan akhir adalah sesuai dengan
harga dan jumlah pada unit pembelian terakhir.
2.
Last in, first out (LIFO) atau masuk terakhir keluar
pertama.
Dengan metode ini perusahaan beranggapan bahwa harga beli
terakhir dipergunakan untuk harga bahan baku yang pertama keluar sehingga masih
ada (stock) dinilai berdasarkan harga pembelian terdahulu.
3.
Rata-rata tertimbang (weighted
average)
Cara ini didasarkan atas harga rata-rata perunit bahan adalah
sama dengan jumlah harga perunit yang dikalikan dengan masing-masing
kuantitasnya kemudian dibagi dengan seluruh jumlah unit bahan dalam perusahaan
tersebut.
4.
Harga standar
Besarnya nilai persediaan akhir dari suatu perusahaan akan sama
dengan jumlah unit persediaan akhir dikalikan dengan harga standar perusahaan.
Sumber:
https://trihastutie.wordpress.com/2010/03/02/manajemen-persediaan-2/
Comments
Post a Comment